LN001
LN001

Kontroversi Disertasi: Ini Kata Pengkaji Ilmu Al-Qur’an

Kontroversi Disertasi: Ini Kata Pengkaji Ilmu Al-Qur’an
Bagikan :
185 Views

Jakarta,- Abdul Aziz yang mengambil program doktor di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta membuat disertasi kontroversial. Menurut Makmun Rasyid, Deputi Pengkajian Islam ID-Republikan, kehebohan dalam tatanan wacana sebagaimana yang disorot Abdul Aziz, kandidat doktor di UIN Yogyakarta bukan barang baru dalam cakrawala berpikir. Tokoh yang dijadikan pijakan dan kajian utama pun pernah membuat akademisi gerang. Dimana Syahrur pernah menggugah para cendekiawan dengan mengatakan bahwa khamar tidak haram. Artinya, dari satu ayat lahir aneka ragam penafsiran. Bahkan di Mesir dulu pernah ada hal sejenis. Sebuah disertasi yang di dalamnya mengatakan bahwa kisah-kisah Qur’an hanyalah fiksi bukan fakta.

Makmun mengatakan “Sebagai pengkaji tafsir al-Qur’an, hemat saya, Abdul Aziz belum jelas posisinya, sebagai pe-review atau pengkritik dalam disertasinya atau mendukung penuh. Sampai disertasi itu selesai saya baca, ambiguitas posisi penulis sangat tampak”, tegasnya. Makmun menilai disertasi bisa tak ubahnya sebagai resensi dan ulasan biasa. “Namun ala kulli hal, sebagai sebuah perjuangan dalam dunia akademik, kita perlu memberikan apresiasi. Di tengah para penulis disertasi tidak cukup berani masuk ke ranah-ranah mapan, ia berani dengan menjadikan Syahrur sebagai pijakan utamanya”, tambahnya.

“Di satu sisi, penting untuk dimengerti, ketidaksetujuan kepada sebuah hasil penelitian dan karya jangan membuat kita menjadi berucap-ucap tanpa menggunakan etika publik”, terangnya. Makmun juga menyampaikan bahwa disertasi yang ditulis Aziz bisa menjadi pukulan untuk keluarganya juga.

Makmun yang dihubungi media via telepon ini menegaskan bahwa, literasi masyarakat yang masih rendah menimbulkan ketidakmampuan publik untuk mencerna dengan bijaksana, terlepas benar dan salahnya kontroversi disertasi ini. “Kelemahan itu ditambah semangat beragama umat Muslim yang amburadul dalam berhukum. Misalnya, mudahnya menjustifikasi secara sembrono di media sosial”, katanya.

“Abdul Aziz luput dalam menyoroti undang-undang yang ada dan penerawangan masyarakat Indonesia dengan perangkat psikologis dan antropologis.”

“Walaupun Qur’an itu tidak keberatan ditafsirkan oleh siapapun. Bahkan oleh Syahrur yang tidak memiliki basic di Ilmu al-Qur’an dan Tafsir. Qur’an justru menawarkan ajakan pembuatan diskursus bagi mereka-mereka yang tidak menyukainya.”, pungkasnya. Diakhir, pria kelahiran Medan, Sumatera Utara yang juga penulis buku best seller Gagal Paham Khilafah ini mengatakan, “Silahkan pula menggunakan metode terbarukan. Namun ajakan Qur’an bukan turun di tempat tanpa isi. Ia dikelilingi oleh seperangkat aturan yang selalu dijadikan patokan pengkaji al-Qur’an sampai menyimpulkannya.” (DS)

About The Author

Related posts