LN001
LN001

Malam 1 Suro, Momentum “TIRAKAT” Para Pemangku Budaya Jawa

Malam 1 Suro, Momentum “TIRAKAT” Para Pemangku Budaya Jawa
Bagikan :
61 Views

Oleh : Satriya Nugraha,S.P

Pemerhati Seni, Budaya dan Pariwisata Jawa Timur
Konsultan Desa Ekowisata Jawa Timur

Dalam bahasa Indonesia, secara hrafiah istilah “tirakat” diartikan : (1) upaya menahan hawa nafsu (seperti berpuasa, berpantangan), (2) mengucilkan diri ke tempat yang sunyi (di gunung dsb.) (KBBI, 2002: 1199). Kata jadian “tirakatan” menunjuk kepada : aktifitas tirakatan. Istilah ini merupakan serapan dari bahasa Jawa Baru, dalam arti yang sama.

Menurut M. Dwi Cahyono, pakar Sejarah UM menjelaskan bahwa kata jadian “nirakati” Misalnya, bisa berarti : menunggu orang dengan tidak tidur. Adapun kata “tirakatan” bisa berarti : duduk mengobrol sampai pagi, ziarah (Mangunsuwito, 2013:465).

Ada pula yang mencari akar etimologisnya pada bahasa Arab طرق (tariqah) yang berarti “jalan” atau “metode”, dan mengacu pada aliran kegamaan tasawuf atau sufisme dalam Islam. Secara konseptual terkait dengan ḥaqīqah atau “kebenaran sejati”, yaitu cita-cita ideal yang ingin dicapai oleh para pelaku aliran tersebut.

Dalam bahasa Jawa Kuna ataupun Jawa Tengahan, istilah “tirakat” tak dijumpai. Alih-alih terdapat suatu kosa kata yang cujup dekat dengan itu, yakni “tira”, yang searti dengan kata “tirah”, yaitu : pantai, tepi sungai, sisi, pinggir, lambung (Zoetmulder, 1995: 1260- 1261).

Dalam bahasa Indonesia istilah “tirah” diartikan : pIndah ke tempat lain untuk beristirahat dalam rangka memulihkan kesehatan. Oleh karena itu, kata jadian “petirahan” menunjuk kepada tempat beristirahat (untuk berobat atau untuk memulihkan kesehatan), sanatorium (KBBI, 2002: 1199).

Dalam maksud yang lebih luas, tirah tidak hanya untuk sebutan dari penyakit biologis, melainkan terhadap sakit rohani dengan cara berstirahat.

Hal ini memberi petunjuk bahwa “sesi istirahat” perlu pula dilakukan dalam mengisi hidup. Kata “tirah” memiliki keserupaan dengan “tirakat”, namun dengan sedikit beda arti — seperti pada kata “berkah” dengan “berkat”.

Aktifitas tirakat, yang berarti mengucilkan diri ke tempat sunyi, berkomunikasi dengan leluhur, dalam sebutan lain diistilahi dengan “nepi manepi)”, yang menjadi arti dari kata “tira”. Kata jadian “nepi” juga kedapatan dalam bahasa Jawa Kuna, seperti pada kata ulang “anepi-nepi”, dalam arti : menepi, pergi/ menuju ke pinggir, sebagaimana misalnya disebut dalam kakawin Ramayana (25.62) dan Kresnayana (21.3).

Terkait hal tersebut, “petirahan” digambarkan sebagai tempat yang sunyi, sejuk segar, dan dapat memberi ketentraman hati. Suatu lokasi yang cocok untuk beristirahat guna memulihkan kesehatan, baik fisik maupun jiwa. Berkomunikasi bathin kepada para leluhur.

Tirakat pada dasarnya merupakan tindakan sengaja untuk memisahkan diri dari dunia ramai, atau bersunyi diri guna mendapatkan apa yang disebut ketenangan, ketentraman maupun kebersihan batin.

Bersunyi diri antara lain diekspresikan dengan diam, tidak bersuara, seperti “topo mbisu (bertapa bisu)” pada Malam Suro , yang pada tahun ini jatuh pada Sabtu malam 31 Agustus 2019 hingga 1 September 2019 dini hari.

Pada malam Tahun Baru Jawa, yang di tahun ini jatuh pada Tahun Wawu 1953, di lingkungan keraton Ngayogyokarto Hadiningrat — sebagaimana tahun-tahun sebelumnya — dilakukan ” topo mbisu” dengan tidak mengeluarkan sepatah kata sembari “mubeng benteng (berjalan mengitari benteng).

Hal serupa dilakukan di Ponorogo pada Malem Suro dengan berjalan kaki sambil berdiam tak berkata-kata (mingkem, mbisu). Tradisi serupa diselenggarakan pula di daerah-daerah lain di Jawa, khususnya pada wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, kendati detailnya terdapat sedikit perbedaan.

Sebenarnya, topo mbisu tidak harus dilakukan berjalan kaki, tetapi bisa dengan cara duduk diam tanpa bersuara, seperti dilakukan oleh Joko Budeg dalam legenda lokal di Tulungagung, yang melakukan “topo mbudeg (bertapa bisu-tuli)”.

Bertapanya sang Arjuna di dalam kakawin Arjunawiwaha pun juga dilakukan dengan duduk diam serta teguh dalam menghadapi godaan roh-roh jahat.

Seringkali dalam bertapa kelopak mata sedikit dipejamkan, seperti posisi padang dua kelopak mata yang diarahkan ke ujung hidung manakala bersamadi.

Sebutan “topo mbisu” sama arti dengan “puasa bicara”. Dengan ikhtiar menonaktifkan indra mulut, telinga, gerak tubuh, maupun indra mata, maka “mata hati” menjadi lebih tajam dari kondisi biasa.

Dengan mata hati yang tajam itulah manusia melakukan introspeksi diri, merenungi kesalahan-kesalahan di masa lampau,menjalani apa yang disebut dengan “perjalanan ke dalam diri (inner side traffic) “, sebagaimana yang dicontohkan oleh Bhima dalam kisah “Bhimaruci”.

Ritus tradisional Malem Suro yang merupakakan agenda tahunan di lingkungan pemangku budaya Jawa adalah ikhtiar personal ataupun pada tingkat komunitas untuk bersuci diri, membuang kotoran (sukerto) yang menempeli batinnya ketika meniti perjalanan hidupnya selama setahun berlalu.

Upaya membersihkan hati, batin ataupun jiwa ini selaras dengan hakekat ” ruwat”, yang pada intinya adalah “mbuang sukerto (membuang yang kotor) “.

Oleh karena itu, dapat difahami bila di bulan Suro lazim dilakukan ragam kegiatan ruwatan, mulai dari ruwat diri, ruwat desa, sampai lingkup yang lebih luas seperti ruwat bumi seringkali dilakukan oleh warga masyakat Jawa di bulan Suro yang muharam itu.

Demikian pula, benda-benda pusaka disucikan di bulan Suro, salah satu sasi (bulan, wulan) diantara 12 bulan dalam satu tahun yang dipandang sebagai bulan yang suci. Mandi untuk bersuci diri di malem 1 Suro juga banyak dilakukan warga Islam Jawa. Hal ini dilakukan untuk melestarikan budaya leluhur mereka.

Semoga tulisan yang sederhana inu mampu memberikan wawasan nilai-nilai lokal kedaerahan bagi pembaca yang terhormay. Senyampang kini tengah tiba tanggal 1 Suro 1953 Tahun Wawu. Nuwun.

Minggu, 1 Suro 1953

Sumber Referensi :
M.Dwi Cahyono, M.Si
Pakar Sejarah UM

About The Author

Related posts